Postingan

Stammer Boy

“Wooy… ngelamun aje lu!”, Dita menepuk bahu Eka. “Dit, kamu keterluan! Hampir saja jantungku copot,” Darah Eka mulai naik ke ubun-ubun. “Hahaha sewot amat lu. Kenape, da masalah ma cowok lu?? Udah jangan terlalu di dramatisir hidup itu!” Dita tertawa kecil setengah mengejek sahabatnya yang lagi bengong dari tadi. “ So tahu amiiit sih Lu!,” Eka mendesis dengan gaya khas tatapan mata juteknya. “Huc…..h emang dasar cewek di mane-mane sifatnya sama aje. Jadi bingung deh gue”. Sambil bicara ia pun meninggalkan sahabat dari kecilnya yang sedang marah-marah gak jelas.             Ditemani bisingan siswa Eka menerawang ke arah langit. Ia masih memikirkan kejadian tadi pagi. Bukan sekedar memikirkan peristiwa itu, namun ada rasa penasaran yang mendalam di lubuk hati Eka tentang cowok yang tabrakan sama dia. “Siapa ya Dia, ko saya baru lihat di sekolah ini??”, gumam hati gadis kota kembang itu. Otaknya terus berputar memikirka...

Bisikan Sepertiga Malam

 Bisikan Sepertiga Malam Engkau mencintaiku begitu dalam Padahal aku selalu mengabaikan-Mu Di sepertiga malam ini Kau rajuk aku tuk menemui-Mu Ah betapa indahnya bercumbu dengan-Mu Ada kedamaian saat mencurahkan segala rasa dalam hati Betapa bodohnya diri ini, selalu mendambakan cinta yang tak pasti Padahal, Engkau telah memberiku cinta yang haqiqi Kumohon, terimalah penjamuanku malam ini Sebab, tak ada lagi yang dapat menentramkan qalbuku Selain Engkau menerima cintaku Sungguh tak dapat kugambarkan dengan kata-kata Betapa bahagianya malam ini Aku dapat melihat-Mu lagi Di saat orang lain terlelap dalam buaian mimpi Serang, 18 Maret 2013 Tri J. Aisyah
 Ratapan Petang By: Tri J. Aisyah Tak kuasa lagi aku menahan tangis Karena takut yang menyerang tiba-tiba Yang tak mampu kujelaskan dengan kata Apalagi dengan sebuah cerita Pada siapa lagi kuharus bercerita Tentang rasa yang selalu mendera Cara apalagi yang dapat berguna Tuk melebur takut yang selalu menjera Tertatih-taih kususun kembali Tentang pecahan-pecahan mimpi Yang berserakan di sel - sel memori Aku tak mau menyerah pada waktu Apalagi harus mengalah pada keadaan Namun.... Aku juga masih merangkak mengumpulkan Puing-puing keberanian

Balada Gadis Serpihan Kaca

Irama ranting hujan yang mengguyur istanaku Adalah saksi atas kesanksian yang menyelimuti jiwaku Dentuman petir yang membelah bumi Dengan setia menemani atas kegoyahan diri ini Kadang aku berpikir Aku mampu menyalakan lilin yang sempat mati Namun, tak jarang pelita itu sirna Oleh kilatan-kilatan angin hitam yang sempat kuukir Bulan kelahiranku telah kulalui Bulan kasih sayangpun akan pergi Aku masih bersahabat dengan segala angan Yang belum bisa kuwujudkan Valentain di kota pencarianku masih basah Namun tak sekuyup ragaku Yang diguyuri dengan sejuta mimpi Mimpi yang sangat ragu untuk aku genggam Bila menyisir kehidupanku kebelakang Rasanya seperti ada pedang tajam Yang siap menghunus kepala dan jantung Memusnahkan yang sedang kurangkai Bertahun-tahaun, kuhabiskan waktuku Dengan bercengkrama masa lalu yang menyekap janjiku Bertahun-tahun, kuhabiskan hariku Dengan rasa sesal yang membutakan mata sukmaku Kini, tinggal catatan hitam Yang siap menerjang pelupu...

Persembahan Terkahir

         “Siapa nama kamu?” gertak pria bermata bulat.          “Khairatun Nisa.” Jawab Nisa.          “Kamu menantang saya?”          “Maaf, saya tidak bermaksud menantang kakak.”          “Maaf? Kamu tahu kesalahan kamu di mana?” Nadanya semakin meninggi.          “Ya saya tahu, kesalahan saya memakai jilbab.”           “Kalau kamu tahu aturan, kenapa kamu melakukannya. Kamu ini punya otak atau tidak? Pikir dong , mikirnya pakai otak, jangan pakai dengkul!” cecar sang pria yang tahun ini menjabat sebagai ketua OSIS (Organisasi Siswa Intera Sekolah).           Semua mata tertuju pada Nisa, memandangnya dengan penuh tatapan nanar. Lagi-lagi ada...