Just for You
Oleh: Madhes Ai Langit rupanya sedang murung atau bungkam melihat kesibukan bumi. Ah, mungkin saja langit ingin menangis menyirami bumi yang sudah mengering karena lama tak terbasuh oleh hujan. Sama seperti langit yang sedang dirundung gelisah, laki-laki yang dikenal sebagai lelaki humoris nampak tak seperti biasanya. Ada hal yang menggelitik benaknya atau tepatnya ia sedang berperang dengan ketakutan yang sudah lama bersemayam dalam dirinya. Dibalik tudung keceriaannya ia simpan trauma yang mendalam akan seorang perempuan yang dulu sempat melukis kehidupannya. Empat tahun lamanya ia ingin bebas dari belenggu rasa bersalah yang tak berkesudahan. Dengan segala cara ia mengatasinya namun tetap saja ketika ia ada niat untuk menjalin suatu hubungan, rasa itu muncul kembali seolah menjadi tameng bagi kehidupannya. Ketakutannya belum jua terkendali penuh. "Oh, God! What should I do?", lirihnya dalam hati. Matanya tetap fokus pada monitor komputer seolah dirinya tenggelam da...