Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerpen

Just for You

Oleh: Madhes Ai Langit rupanya sedang murung atau bungkam melihat kesibukan bumi. Ah, mungkin saja langit ingin menangis menyirami bumi yang sudah mengering karena lama tak terbasuh oleh hujan. Sama seperti langit yang sedang dirundung gelisah, laki-laki yang dikenal sebagai lelaki humoris nampak tak seperti biasanya. Ada hal yang menggelitik benaknya atau tepatnya ia sedang berperang dengan ketakutan yang sudah lama bersemayam dalam dirinya. Dibalik tudung keceriaannya ia simpan trauma yang mendalam akan seorang perempuan yang dulu sempat melukis kehidupannya. Empat tahun lamanya ia ingin bebas dari belenggu rasa bersalah yang tak berkesudahan. Dengan segala cara ia mengatasinya namun tetap saja ketika ia ada niat untuk menjalin suatu hubungan, rasa itu muncul kembali seolah menjadi tameng bagi kehidupannya. Ketakutannya belum jua terkendali penuh.  "Oh, God! What should I do?", lirihnya dalam hati. Matanya tetap fokus pada monitor komputer seolah dirinya tenggelam da...

Faranisa

Part 1             Oleh: Madhes Ai Panorama malam kota bambu sangatlah menawan. Gemerlap lampu kota sepanjang jalan memanjakan pecinta indahnya pemandangan langit yang bertaburan bintang ditemani sang rembulan. Tak sedikit orang berjalan menyusuri trotoar hanya sekadar berjalan-jalan atau bahkan ada yang sengaja menikmati indahnya menyusuri jalanan kota dengan tujuan tertentu, entah berbelanja atau hanya sekedar makan malam di salah satu restoran ternama. Tak terkecuali lelaki berpostur tubuh tinggi nan rupawan, dengan langkah gontai menjejaki trotoar pejalan kaki lima menuju salah satu cafee di kota tersebut. Ia melepaskan penampilannya sebagai eksekutif muda sebagaimana yang dijalani siang hari. Siapapun tak akan menyangka bahwa ia seorang lelaki kaya raya dan pemegang saham terbesar di perusahaan bidang properti. Ia sengaja berpakaian sederhana dengan memakai celana jeans dan atasan kaos pendek yang dilapisi dengan jaket...

Romansa Ungu

Oleh Madhes Ai Bola api tepat di pusat langit, cahayanya membakar tanah kota Asmaul Husna menyemarakkan bau tanah khas kota. Lalu lalang kendaraan dan manusia hiasi jalanan dalam potret siang. Sementra itu, gadis berhijab merah muda tengah memusatkan ke dua matanya pada layar notebook miliknya. Ia tengah sibuk mencari informasi lowongan kerja dengan bantuan mbah google yang selalu menjadi andalan setiap orang di era digital dan teknologi ini. Telunjuknya masih saja sibuk memindahkan kursor dari satu website ke website lain yang memuat informasi loker alias lowongan kerja. Hampir dua jam lebih lamanya ia berkelana di dunia maya untuk mendapatkan informasi yang dimaksud, namun belum saja mendapatkan hasilnya. “O, my God, this is a real life what I have to be undergone. How difficult that seeking for a job.” Ya, inilah kehidupan baru yang harus dijalani Aqilah. Ia sudah memutuskan untuk melepas dirinya dari kedua orang tua. Ia tak mau lagi mendapatkan apa yang diinginkan dirin...

Cinta dan Balas Budi

 Oleh:Madhes Ai "Ris, aku harap hubungan kita tetap terjalin baik meski kita sekarang berada di kota yang berbeda. Semoga kita bisa menjadi harapan keluarga kita." Mariska tersenyum getir mengingat akan perkataan seseorang tiga tahun yang lalu yang sempat mengisi relung qalbunya. Terkadang ia tak habis pikir kenapa kekasihnya meninggalkan dirinya begitu saja tanpa ada gugur atapun hujan deras. Padahal mereka berdua telah mengikrarkan janji di atas hamparan pasir di tepi pamayangan. "Ah, ukir janjinya sih di atas pasir jadinya kebawa ombak deh," pikirnya, dia menggoda diri sendiri. "Assalamu'alaiku, permisi," terdengar ketukan pintu dari luar. Mariska langsung menuju asal suara. Sontak ia terkejut melihat sepasang kekasih di hadapannya. Hampir saja ia mau jatuh namun ditahannya dengan kuat atas ketidaksiapan menerima kenyataan ini. Bibirnya mencoba tersenyum memberikan sapa pada kedua tamunya. "Kakak Ris, ini undangan pernikahan ...

Arus Nilai

Oleh : Madhes Ai Ada hal yang masih menyelinap Gugahkan hati dan mesin pikir Tentang generasi insan yang mulai meredup Juga menurunnya nilai-nilai leluhur Yang sejak dulu tertanam dalam jiwa Terwujudkan dengan tingkah yang mengabdi Bahkan aku melihat diri sendiri Yang kini mulai terseret Arus zaman yang pesat Secara perlahan mencuci bersih karakter aslinya

Lukisan Dua Hati

Oleh: Madhes Ai "Han, aku ingin berkata jujur tentang diriku sendiri." "Oh, tentu saja. Kenapa kamu mesti bilang terlebih dahulu padaku?" "Han, sebetulnya aku memiliki rasa terhadapmu lebih dari seorang sahabat sejak kita bertemu di lobi hotel alang-alang setahun yang lalu. Entah mengapa ketika aku melihatmu tertanam rasa penasaran yang mendalam akan dirimu. Hingga sore selanjutnya aku menemu kan dirimu di tepi pantai sedang memadukan warna di atas kanvas hingga pada akhirnya terbentuk sebuah lukisan yang menggambarkan air laut meninggi seperti terjangan tsunami namun kau membentuknya menjadi pagar sebuah istana yang di dalamnya terdapat para insan yang haus akan dahaga ilmu. Saat itu, ragaku tiba-tiba bergetar melihat karyamu. Kau begitu luar biasa memiliki imaji yang jarang dimiliki orang lain. Han, aku mencintaimu. Aku ingin merajut indahnya berkeluarga bersamamu." "Oh, begitu. Jadi kau mencintaiku hanya karena lukisan pertamaku yan...

Trembling Crush

Part 3           by: Madhes Ai Sang surya sudah berada tepat di pusat langit, cahaya yang dipancarkannya menyengat kulit anak adam dan hawa juga membakar tanah kota bertaqwa. Suara adzan sebagai tanda Allah menyeru hamba-Nya untuk sejenak bertemu dengan-Nya telah melantun dari setiap penjuru kota. Arlyta yang sudah memakai mukenanya telah bersiap untuk bersujud menyembah sang Khaliq. Ia dengan khidmat mendengarkan kumandang adzan dan menjawab setiap kalimat adzannya. Lalu iapun mulai melaksanakan shalat dzuhur dengan diawali do'a ketika mau shalat. Bibirnya bergetar mengucapkan kalimat takbiratul ihram ketika mengangkat kedua tangannya, hatinyapun ikut tersentuh siap melaksanakan shalat dzhur sebanyak 4 kali raka'at. di setiap gerakan dan bacaan shalat, Arlyta benar-benar khusyuk. Gerakan yang ia lakukan, kalimat-kalimat yang ia ucapkan, juga pikirannya senantiasa melebur menjadi satu menghadap Ilahi, mempersembahkan wujud kesetiaan dan cintanya pada...