Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi

Surat (dari) Kota Santri

Oleh: Madhes Ai Siang di kota santri Begitu damai, sejukan hati Dengan segudang kegiatan Lelahkan hati juga pikiran Dalam pikir, terlintas tanya Tentang pijakan kaki di dunia Dalam benak, terlintas kenangan Tentang kisah yang tak sejalan Berjalan di muka bumi Memang tugas khalifah ardi Kadang kala terasa lelah Karena harapan seakan perlahan memunah Kemana lagi harus kubawa Selembas kertas yang bertuliskan angka-angka Akankah menjadi pengantar hidup Atau hanya sebagai riasan hidup Sesal mendalam tiada arti Lalu mengapa harus kutangisi Mungkin Tuhan suka akan lantunan Lantunan yang syarat permohonan Ah, kurasa memang Engkau sedang menguji Pada hamba yang sedang meniti Menaiki tangga kehidupan Yang syarat kearifan

selendang yang terkenang

padang biru masih menyalak meski padang putih menutupinya dalam detik angin masih setia dengan titah darinya dan aku tersungkur dalam tumpukan lembar aksara terlintas dalam memori tentang pijakan kaki pertama kali di kota pencarian tuk capai tujuan demi kehidupan yang lebih mapan delapan tahun enam bulan lamanya aku hidup di negeri yang tak kuduga dengan senyuman dan air mata tanpa mata mereka oh, Tuhan Rasanya berat tuk tinggalkan mereka yang selalu meminjamkan bahu juga, tentang kisah yang masih tergenggam dalam benak juga rongga luka dalam

Puing-Puing Mimpi

Penglihatanku sudah redup Hati ini sudah tak berdegup Ketika mimpi-mimpi terlintas Walau hanya sepintas Tepatnya bukan mimpi yang dulu selalu digenggam Mereka hanyalah sekawanan puing bingkai legam Tak seharusnya mereka ada Tak seharusnya mereka menyapa Dalam perjalanan langkah Karena mereka tak kan pernah kuraih Meski tubuh bermandikan darah Walau jiwa sudah melemah Mereka hanyalah imaji Yang selalu menemani Di setiap waktu     Hingga aku tak mampu Menghempaskan nafas

Tangisan Matahari

Di tengah keramaian menyelinap rindu Menelusuri relung hati yang tengah berkabung Keinginan kuat untuk bertemu Dengan dia yang tak pernah lekang Menyebut namaku di setiap lantunan doa Namun, waktu tak berpihak Pada hati yang telah cekung Karenan tangis menahan rindu Ibu Di sini aku sendiri Tenggelam dalam kesepian Terbelenggu oleh kebencian Amarah yang sejak lama kusimpan sendiri Menghancurkan seluruh mimpi-mimpi Yang dulu kurancang dengan segenap hati Ibu Kala mataku terpejam Air mataku terus mengalir Qalbuku tak pernah terjaga Meski malam tengah mencekam Saat mataku terjaga Aku berteriak penuh dendam Kata-kata tak bernilai Mengalir begitu saja tanpa ada pertimbangan Ibu Kadang aku membencimu amat sangat Kadang kala aku merindukanmu tiada tara Hidup apa yang telah Tuhan gariskan Hingga aku berani menghakimi-Nya Bahkan meragukan cintaku kepada-Nya Dan, kini aku tenggelam dalam samudera kebimbangan Untukmu Ibu Kelak aku tak bisa lagi memandang wajahm...

Cinta Ayah

  Oleh: Madhes Ai  Tak pernah terucap kata cinta  Karena bagimu kata tak terlalu bermakna Namun, dalam hatimu terdalam  Sungguh terdapat cinta dan kasih sayang mendalam Cinta yang tak mampu kubalas Meski dengan keringat yang terkuras Kasih yang tak mampu kuberikan Seperti yang kau ulurkan Kau tak pernah ada disampingku Di saat aku merindu Pada dekapan seorang ayah Yang menjadi penawar resah Meski begitu Aku tahu Kau habiskan waktumu dengan seluruh jiwa Untuk kami yang kau cintai

Pupuslah

Oleh: Madhes Ai Terkikis oleh cemas lemah, tak mampu menepis Menerpa jiwa dari gelombang ragu Putuskan keyakinan dalam qalbu  Duhai Engkau Sang Penguasa Hati Terimalah ketidakberdayaan nurani Yang tengah terjerat rindu Pada dia pelipur sendu Janganlah Kau biarkan aku menjauh Dari pertalian kasih Antara aku dengan-Mu Hanya karena rasa yang semu Tubuh yang fana Ruh yang hanya sementara Melekat dalam raga Hanyalah Engkau berhak memilikinya Jika cinta yang kau taburkan dalam hati Melupakan aku akan cinta haqiqi Janganlah kau sirami dan biarkan mengelopak Karena, ia hanyalah membuatku terjebak Terjebak dalam ladang kepedihan Terjerumus dalam sungai kesengsaraan Terbelenggu dalam penyesalan Terbawa gelombang lautan kegundahan

Sepucuk Cinta untuk Engkau

 by: Madhes Ai Dalam kehangatan mentari Dalam balutan sunyi siang hari Di tengah kesibukan kota Juga gemuruh hembusan angin taqwa Aku rendahkan kepalaku Kuletakkan dahiku Aku datang penuh debu Aku menangis tak tahu malu Duhai Engkau Pemilik jiwa juga raga Duhai Engkau Pengendali rasa juga cinta Kusematkan sepenuhnya kepada-Mu Kupasrahkan apa yang melekat dalam jasadku Untaian kata yang terucap Rangkaian tingkah yang tertatap Rantai pikir dan imaji yang tertuang Di atas hamparan bumi yang gemilang Lisan yang penuh kata palsu Juga muka yang berkesan keliru Serta tingkah yang butakan mata Hingga orang lain berbaik sangka Segalanya tentang goresan luka Segalanya tentang ukiran suka Segalanya yang kugenggam Terimalah dengan senyum Walau cinta yang kumiliki dangkal Walau cinta yang kuberi satu jengkal Janganlah kau lantarkan hamba yang fana Pada lembah dunia amat terhina

Kekasih Dunia Berbau Surga

by: Madhes Ai Ketika sang rembulan berpamitan pada bumi Bintang-bintang bergantian undur diri Dengan perlahan sang fajar menampakkan diri Disambut dengan alunan   ayat-ayat suci Ada yang tak biasa ketika kubuka mata Keindahan suara yang melantun Begitu nyaman pada daun telinga Hingga melahirkan getaran Lorong-lorong qalbu terasa begitu damai Bak diasupi dengan gizi cinta Ilahi Dalam pikirku menyimpan sejuta tanya Siapa gerangan yang mampu menggoyahkan pintu cinta Pintu yang selama ini kututup rapat Hati yang selama ini kupeluk dengan erat Begitu mudah dengan perlahan terbuka Hanya karena suara yang pertama kali kudengar Sejak itu, aku diselimuti keingintahuan yang mendalam Aku memberanikan diri mengintip dibalik gorden Memerhatikan bangsa adam yang berhamburan Dengan penuh harap bisa mengehentikan kegundahan Namun… Usahaku tak membuahkan apa-apa Setiap harinya aku dihantam dengan rasa penasaran Hingga suatu subuh aku ...

Bias Cinta Sepertiga Malam

Oleh: Madhes Ai Sentuhan yang selalu menggugah Telah membawaku pada mimbar putih Di saat mereka khusyuk terjaga Asyik bercumbu dengan suguhan surga sementara Kulangkahkan kaki tuk membasuh raga Juga menyegarkan jiwa Kuberanikan diri menyapa Engkau Meski aku berselimut noda dan dosa Dalam sujudku tumpah riuh bulir air mata Dalam sujudku terucap kata yang sengaja lama kusergap   Dalam sujudku terhembus nafas kepedihan Dalam sujudku kulepas jas hitam gemerlap Tak pernah kurasakan ketenangan Selain detik-detik merajuk Engkau Tak ada yang bisa kupercaya tuk jadi tempat pengadu Selain Engkau Yang Maha Pemberi Kelapangan Tak kan mampu kuungkapkan Tak kan mampu kulukiskan Keindahan bias cintamu Pada qalbuku yang semu Aku memang tak sesuci siti aisyah Tapi Engkau selalu memeluk dengan erat Meski cintaku tak sedalam cinta Rabiah Namun Engkau selalu membuka jalan rahmat Tak bisa lagi kurasakan gejolak asmara Tak mau lagi a...

Harapan untuk Bumi Suci

Oleh: Madhes Ai Lidah ini kelu Tak mampu mengucap satu kata Seperti terbelenggu Oleh rantai dosa Hati ini seperti mati Tak mampu bersimpati Pada mereka yang sedang berduka Atas hujan roket tak terduga Tanganpun seketika kaku Tak mampu merangkai alfabeta Sebagai ungkapan bela sungkawa Pada mereka yang dirundung pilu Sungguh diri pendawam dosa Hingga tak bisa memantik cinta dengan air mata Pada mereka saudara seagama Para syuhada yang dicintai-Nya Hanya bisa kutengadahkan tangan Memohon pada Engkau Sang Maha Penjaga Tuk ciptakan perdamaian Di atas bumi para syuhada

Rindu yang Menepi

 Oleh: Madhes Ai Terbentang luas jalanan Yang diapit oleh sungai dan bukit hijau Menuju suatu gubuk dimana aku dilahirkan Lama aku tak menginjak pematang kampung Yang selalu dilintasi insan berwajah riang Tanda menyapa sebagai ramah tamah Untukmu tanah kelahiran  Aku merindukan setiap inci pesona yang kau tunjukan

Paradoks Ikrar

                                             Oleh: Madhes Ai Masihkah kau ingat dengan bibir pantai? Tempat kita menyulam janji Tentang arti niscaya setia Dalam memilin rasa juga cinta Atau mungkin kau sengaja? Lupa pada untaian kata Yang kau rangkai manis Di depan bola mataku yang polos Kini kau tersenyum bersamanya Dan kau tinggalkan luka  Dalam qalbuku penuh dera Juga sesal yang tak kunjung sirna

Sisipan

Ketika ego butakan logika Saat itu pula keangkuhan meraja Uluran tangan terhapuskan Petuah suci terlupakan Tak ada lagi belas kasih Apalagi rasa hormat Kecewa Trauma Menyatu dalam jiwa Ingin pergi Tak kembali Biarlah tak ada yang mengenali Biarlah tak ada yang mengingat lagi Kehendak yang tak bisa dimengerti Satu sama lain yang tak mampu memahami Apa artinya bersama Bila ada tak dianggap ada Durjana Murka Terlahir dari luka Oleh: Tri J. Aisyah 

Belaian Rindu

Kadangku bertanya Apa kau merindukanku Pernahkah mengingatku Khawatir akan keadaan di luar sana Kadang pula kuberpikir Sakitkah hatimu Karena tingkah yang kubuat Kadang juga kumerasa Kau tak menginginkanku Dan tak ingin ku kembali

Bisikan Sepertiga Malam

 Bisikan Sepertiga Malam Engkau mencintaiku begitu dalam Padahal aku selalu mengabaikan-Mu Di sepertiga malam ini Kau rajuk aku tuk menemui-Mu Ah betapa indahnya bercumbu dengan-Mu Ada kedamaian saat mencurahkan segala rasa dalam hati Betapa bodohnya diri ini, selalu mendambakan cinta yang tak pasti Padahal, Engkau telah memberiku cinta yang haqiqi Kumohon, terimalah penjamuanku malam ini Sebab, tak ada lagi yang dapat menentramkan qalbuku Selain Engkau menerima cintaku Sungguh tak dapat kugambarkan dengan kata-kata Betapa bahagianya malam ini Aku dapat melihat-Mu lagi Di saat orang lain terlelap dalam buaian mimpi Serang, 18 Maret 2013 Tri J. Aisyah
 Ratapan Petang By: Tri J. Aisyah Tak kuasa lagi aku menahan tangis Karena takut yang menyerang tiba-tiba Yang tak mampu kujelaskan dengan kata Apalagi dengan sebuah cerita Pada siapa lagi kuharus bercerita Tentang rasa yang selalu mendera Cara apalagi yang dapat berguna Tuk melebur takut yang selalu menjera Tertatih-taih kususun kembali Tentang pecahan-pecahan mimpi Yang berserakan di sel - sel memori Aku tak mau menyerah pada waktu Apalagi harus mengalah pada keadaan Namun.... Aku juga masih merangkak mengumpulkan Puing-puing keberanian

Balada Gadis Serpihan Kaca

Irama ranting hujan yang mengguyur istanaku Adalah saksi atas kesanksian yang menyelimuti jiwaku Dentuman petir yang membelah bumi Dengan setia menemani atas kegoyahan diri ini Kadang aku berpikir Aku mampu menyalakan lilin yang sempat mati Namun, tak jarang pelita itu sirna Oleh kilatan-kilatan angin hitam yang sempat kuukir Bulan kelahiranku telah kulalui Bulan kasih sayangpun akan pergi Aku masih bersahabat dengan segala angan Yang belum bisa kuwujudkan Valentain di kota pencarianku masih basah Namun tak sekuyup ragaku Yang diguyuri dengan sejuta mimpi Mimpi yang sangat ragu untuk aku genggam Bila menyisir kehidupanku kebelakang Rasanya seperti ada pedang tajam Yang siap menghunus kepala dan jantung Memusnahkan yang sedang kurangkai Bertahun-tahaun, kuhabiskan waktuku Dengan bercengkrama masa lalu yang menyekap janjiku Bertahun-tahun, kuhabiskan hariku Dengan rasa sesal yang membutakan mata sukmaku Kini, tinggal catatan hitam Yang siap menerjang pelupu...

Munajat Senja

Raja siang mulai terbenam  Di balik awan putih  Cahaya senja semakin meredup Sang rembulan perlahan menyapa malam  Seruan untuk menghadap-Mu Bergema di seluruh penjuru kota Kini, aku tersungkur dalam kesendirian Berbalut kerinduan yang tak dapat kugambarkan Sungguh, detik-detik seperti ini sangat kudambakan Meski, aku terpojok dalam ruangan yang hampa Namun, entah mengapa jiwa ini diliputi rasa bahagia Ada kedamaian di dalamnya  Ada kehangatan dalam qalbu Ada kesejukan dalam fikiran Ah, Aku tak sabar ingin bertemu dengan-Mu Tapi, Aku sadar Aku belumlah siap Cintaku pada-Mu masih begitu dangkal Namun, Entah mengapa? Saat gorden malam terbuka  Aku diliputi rasa yang tak pernah bisa kulukiskan Rasa yang tak mampu kurangkai dengan kata Betapa teririsnya hati ini  Saat aku merindukan pelukan-Mu Ya Allah... Sungguh aku mencintai-Mu Ada ketenangan saat aku menyebut asma-Mu  Ampuni aku, yang belum mencintai-Mu dengan sempurna Bimbin...

Aku Rindu Dekapan-Mu Rabb

Kehampaan hidup yang tak pernah bisa kugambarkan  Saat aku tak berada di sisi-Nya Rasa sepi yang tak kan pernah mampu kulukiskan  Ketika qalbu ini jauh dari asma-Nya Seberapa lama aku menanggalkan waktu tuk menemui-Nya Seberapa lama aku berpaling akan garisan tangan-Nya Sungguh rasa bersalah yang selalu menghantui ketika hari-hari kelam menyapa kesendirian  Saat kutemukan Cinta-Nya Pedang tajam selalu menghadang Saat aku mulai meraih Kasih-Nya Slide-Slide hitam selalu menertawakan  Sungguh aku ingin berjuma dengan-Nya Namun, aku belum memiliki apapun untuk-Nya Sungguh kurindukan detik-detik bersama-Nya Hingga rindu ini membelenggu leherku  by: Tri J. Aisyah

CIREUNDEU

40 hari telah berlalu 40 hari kujalani apa yang digariskan oleh-Mu 40 hari aku belajar menerima suratan-Mu 40 hari aku mengubur keinginanku Cirendeu Begitu sejuk kau di qalbuku Nuansa alam yang amat sangat damaikan jiwa yang sedang galau Menorehkan langkah mengukir cita dan cinta Cireundeu Bersamamu kuukir cerita Bersamamu kujalain saudara Bersamamu kulukis asa Cireundeu Kau ajarkan aku kesabaran Kau ajarkan aku keprihatinan Kau kenalkan aku pada kesungguhan  Kau pertemukan aku dengan senyuman  Ya Rabb Sungguh Maha Dahsyat segala Karunia-Mu Kau balut aku dengan cinta-Mu  Lewat cinta-kasih orang-orang yang kau pilihkan untukku by:  Tri J. Aisyah