Postingan

Sepucuk Cinta untuk Engkau

 by: Madhes Ai Dalam kehangatan mentari Dalam balutan sunyi siang hari Di tengah kesibukan kota Juga gemuruh hembusan angin taqwa Aku rendahkan kepalaku Kuletakkan dahiku Aku datang penuh debu Aku menangis tak tahu malu Duhai Engkau Pemilik jiwa juga raga Duhai Engkau Pengendali rasa juga cinta Kusematkan sepenuhnya kepada-Mu Kupasrahkan apa yang melekat dalam jasadku Untaian kata yang terucap Rangkaian tingkah yang tertatap Rantai pikir dan imaji yang tertuang Di atas hamparan bumi yang gemilang Lisan yang penuh kata palsu Juga muka yang berkesan keliru Serta tingkah yang butakan mata Hingga orang lain berbaik sangka Segalanya tentang goresan luka Segalanya tentang ukiran suka Segalanya yang kugenggam Terimalah dengan senyum Walau cinta yang kumiliki dangkal Walau cinta yang kuberi satu jengkal Janganlah kau lantarkan hamba yang fana Pada lembah dunia amat terhina

Kekasih Dunia Berbau Surga

by: Madhes Ai Ketika sang rembulan berpamitan pada bumi Bintang-bintang bergantian undur diri Dengan perlahan sang fajar menampakkan diri Disambut dengan alunan   ayat-ayat suci Ada yang tak biasa ketika kubuka mata Keindahan suara yang melantun Begitu nyaman pada daun telinga Hingga melahirkan getaran Lorong-lorong qalbu terasa begitu damai Bak diasupi dengan gizi cinta Ilahi Dalam pikirku menyimpan sejuta tanya Siapa gerangan yang mampu menggoyahkan pintu cinta Pintu yang selama ini kututup rapat Hati yang selama ini kupeluk dengan erat Begitu mudah dengan perlahan terbuka Hanya karena suara yang pertama kali kudengar Sejak itu, aku diselimuti keingintahuan yang mendalam Aku memberanikan diri mengintip dibalik gorden Memerhatikan bangsa adam yang berhamburan Dengan penuh harap bisa mengehentikan kegundahan Namun… Usahaku tak membuahkan apa-apa Setiap harinya aku dihantam dengan rasa penasaran Hingga suatu subuh aku ...

Bias Cinta Sepertiga Malam

Oleh: Madhes Ai Sentuhan yang selalu menggugah Telah membawaku pada mimbar putih Di saat mereka khusyuk terjaga Asyik bercumbu dengan suguhan surga sementara Kulangkahkan kaki tuk membasuh raga Juga menyegarkan jiwa Kuberanikan diri menyapa Engkau Meski aku berselimut noda dan dosa Dalam sujudku tumpah riuh bulir air mata Dalam sujudku terucap kata yang sengaja lama kusergap   Dalam sujudku terhembus nafas kepedihan Dalam sujudku kulepas jas hitam gemerlap Tak pernah kurasakan ketenangan Selain detik-detik merajuk Engkau Tak ada yang bisa kupercaya tuk jadi tempat pengadu Selain Engkau Yang Maha Pemberi Kelapangan Tak kan mampu kuungkapkan Tak kan mampu kulukiskan Keindahan bias cintamu Pada qalbuku yang semu Aku memang tak sesuci siti aisyah Tapi Engkau selalu memeluk dengan erat Meski cintaku tak sedalam cinta Rabiah Namun Engkau selalu membuka jalan rahmat Tak bisa lagi kurasakan gejolak asmara Tak mau lagi a...

Harapan untuk Bumi Suci

Oleh: Madhes Ai Lidah ini kelu Tak mampu mengucap satu kata Seperti terbelenggu Oleh rantai dosa Hati ini seperti mati Tak mampu bersimpati Pada mereka yang sedang berduka Atas hujan roket tak terduga Tanganpun seketika kaku Tak mampu merangkai alfabeta Sebagai ungkapan bela sungkawa Pada mereka yang dirundung pilu Sungguh diri pendawam dosa Hingga tak bisa memantik cinta dengan air mata Pada mereka saudara seagama Para syuhada yang dicintai-Nya Hanya bisa kutengadahkan tangan Memohon pada Engkau Sang Maha Penjaga Tuk ciptakan perdamaian Di atas bumi para syuhada

Cinta dan Balas Budi

 Oleh:Madhes Ai "Ris, aku harap hubungan kita tetap terjalin baik meski kita sekarang berada di kota yang berbeda. Semoga kita bisa menjadi harapan keluarga kita." Mariska tersenyum getir mengingat akan perkataan seseorang tiga tahun yang lalu yang sempat mengisi relung qalbunya. Terkadang ia tak habis pikir kenapa kekasihnya meninggalkan dirinya begitu saja tanpa ada gugur atapun hujan deras. Padahal mereka berdua telah mengikrarkan janji di atas hamparan pasir di tepi pamayangan. "Ah, ukir janjinya sih di atas pasir jadinya kebawa ombak deh," pikirnya, dia menggoda diri sendiri. "Assalamu'alaiku, permisi," terdengar ketukan pintu dari luar. Mariska langsung menuju asal suara. Sontak ia terkejut melihat sepasang kekasih di hadapannya. Hampir saja ia mau jatuh namun ditahannya dengan kuat atas ketidaksiapan menerima kenyataan ini. Bibirnya mencoba tersenyum memberikan sapa pada kedua tamunya. "Kakak Ris, ini undangan pernikahan ...

Arus Nilai

Oleh : Madhes Ai Ada hal yang masih menyelinap Gugahkan hati dan mesin pikir Tentang generasi insan yang mulai meredup Juga menurunnya nilai-nilai leluhur Yang sejak dulu tertanam dalam jiwa Terwujudkan dengan tingkah yang mengabdi Bahkan aku melihat diri sendiri Yang kini mulai terseret Arus zaman yang pesat Secara perlahan mencuci bersih karakter aslinya

Rindu yang Menepi

 Oleh: Madhes Ai Terbentang luas jalanan Yang diapit oleh sungai dan bukit hijau Menuju suatu gubuk dimana aku dilahirkan Lama aku tak menginjak pematang kampung Yang selalu dilintasi insan berwajah riang Tanda menyapa sebagai ramah tamah Untukmu tanah kelahiran  Aku merindukan setiap inci pesona yang kau tunjukan